pemberian pakan lele

Mengetahui tata cara pemberian pakan lele merupakan hal yang penting dan berpengaruh sangat besar dalam kesuksesan produksi budidaya ternak lele. Sebaliknya, kesalahan dalam tata cara pemberian pakan lele dapat berakibat buruk, dari benih atau bibit lele yang mudah terserang penyakit sampai kondisi yang paling fatal yaitu kematian pada ikan lele yang dibudidayakan. Banyaknya keluhan dari para pengusaha ternak atau budidaya lele tentang penyakit yang menjangkit lele peliharaan mereka sebagian besar diakibatkan dari kurang atau mungkin sama sekali belum mengetahui tentang tata cara pemberian pakan lele yang baik dan benar, adapun tata cara pemberian pakan lele dapat dibagi menjadi :

1. Waktu Pemberian Pakan
2. Persiapan Pemberian Pakan
3. Cara Memberikan Pakan

Tata cara pemberian pakan lele pada segmen pembenihan dan pembesaran tidak terlalu banyak perbedaan, perbedaan paling mendasar hanya pada pakan alami dan pakan tambahan. Pada segmen pembenihan ada pemberian pakan alami berupa cacing sutera pada saat larva berumur lima hari, sementara pada segmen pembesaran jarang sekali ada pembudidaya yang meberikan cacing sutera, sementara pada segmen pembesaran, pemberian pakan tambahan berupa ayam tiren, ikan runcah dan lainnya. Kita akan coba menjelaskan satu persatu dari ketiga bagian tata cara pemberian pakan lele.

1. Waktu Pemberian Pakan

Dalam tata cara pemberian pakan lele, mengetahui waktu pemberian pakan merupakan hal yang sangat penting, selain harus mengatur waktu pemberian pakan lele sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, baik yang menggunakan tiga kali sehari atau lima sampai dengan enam kali sehari (Setiap 3 jam). Yang sangat penting dan harus diperhatikan adalah pemberian pakan lele tidak boleh dimulai terlalu pagi, atau lebih jelasnya, jangan memberikan pakan pada lele sebelum jam sembilan pagi. Kenapa demikian? Berdasarkan penelitian pada waktu pagi sebelum jam sembilan, permukaan air kolam masih tercemar oleh zat-zat yang merugikan yang dibawa oleh udara, jadi jika kita memberikan pakan pada saat yang terlalu pagi, maka pakan akan bercampur dengan zat-zat tersebut sehingga menjadi racun dan berbahaya bagi kesehatan ikan. Dengan menunggu hingga jam sembilan, diharapkan sudah cukup waktu untuk zat-zat tersebut menguap karena disinari oleh matahari. Adapun penyakit yang bisa ditimbulkan dari kebiasaan memberikan pakan yang terlalu pagi adalah radang insang, diakibatkan oleh parasit karena ikan memakan pakan yang telah tercemar oleh zat-zat yang merugikan.

2. Persiapan Pemberian Pakan

Walaupun terlihat sepele, persiapan pemberian pakan juga merupakan faktor yang tidak bisa dilupakan dalam tata cara pemberian pakan lele. Persiapan pemberian pakan untuk pakan yang berbentuk pelet, sebaiknya para pengusaha ternak lele harus membiasakan membibis pakan pelet yang akan diberikan (kecuali pelet tenggelam), Bibis adalah proses membasahi pelet dengan air (dianjurkan dengan air hangat), gunanya agar pelet mengembang, sehingga ikan lele yang mempunyai sifat rakus tidak akan memakan pelet terlalu banyak atau berlebihan, jika kita memberikan pelet dalam kondisi kering, lele akan terus saja menyantap pelet dengan rakus, terlalu banyaknya lele menyantap pelet kering yang belum mengembang akan berakibat fatal, karena pelet-pelet tersebut akan mengembang dalam perut lele, kondisi ini akan berakibat buruk pada kesehatan lele bahkan bisa mengakibatkan kematian.

Adapun tata cara pemberian pakan lele untuk pakan tambahan persiapannya adalah dengan cara mengolah atau membersihkan pakan tersebut dengan baik, misalnya jika kita membeli cacing sutera dari toko ikan atau pengepul, sebaiknya cacing-cacing tersebut dicuci atau dibilas sebelum disebar ke kolam. Atau jika kita menggunakan ayam tiren pada segmen pembesaran, sebaiknya ayam tersebut direbus, jangan dibakar, karena jika dengan proses membakar, biasanya yang matang/hangus hanya bagian kulitnya saja, sementara bagian dalamnya belum matang, sehingga masih terdapat zat-zat yang berbahaya untuk kesehatan ikan, sementara jika prosesnya dilakukan dengan cara merebus, biasanya ayam tiren akan matang secara keseluruhan dan aman dikonsumsi oleh lele.

3. Cara Memberikan Pakan

Cara memberikan pakan yang baik juga wajib diketahui oleh para pelaku usaha ternak lele agar tata cara pemberian pakan lele menjadi lengkap dan tepat guna.

a. Cara memberikan pakan yang berbentuk pelet apung harus dilakukan dengan cara menyebar pelet menjadi tiga bagian, untuk mudahnya kita umpamakan tiga bagian kolam adalah ujung kanan, tengah dan ujung kiri, langkah pertama adalah sebar pelet secukupnya pada sisi ujung kanan kolam, setelah pelet habis, sebar lagi secukupnya pada sisi tengah kolam, setelah habis sebar lagi pada sisi ujung kiri kolam, lakukan proses tersebut sampai ikan lele kenyang, cirinya adalah terlihatnya beberapa butir pelet yang tersisa pada saat ditebar dipermukaan kolam. Metode pemberian pakan seperti ini dilakukan agar ikan lebih aktif bergerak, sehingga membantu pertumbuhan ikan, selain itu, dengan cara ini para pelaku usaha ternak lele juga dapat mengontrol tingkat responsif ikan lele.

b. Untuk pelet tenggelam cara memberikannya berbeda, pelet tenggelam tidak disebar, melainkan hanya ditebarkan pada satu titik, sesuai namanya sifat pelet tenggelam akan tenggelam pada saat ditebar, jadi tebarkanlah sedikit-sedikit, karena lele termasuk ikan yang suka mengejar pakan yang bergerak, jadi dikhawatirkan pelet yang terlanjur tenggelam tidak akan dimakan, jika pada titik pemberian pakan pelet tenggelam respon ikan sudah nampak menurun, sebaiknya pemberian pakan dihentikan, ulangi dan lakukan lagi prosesnya pada setiap pemberian pakan pelet tenggelam.

c. Pada segmen pembenihan, pakan alami seperti cacing sutera diberikan dengan cara disebar di sudut, di sisi dan di bagian tengah kolam, cacing sutera yang telah dibersihkan/dibilas lalu diambil seujung tangan kemudian diletakkan pada titik yang berbeda, tehnik ini sangat efektif karena larva lele yang berjumlah ribuan yang tersebar di seluruh bagian kolam akan rata mendapatkan makanan. Sementara pada segmen pembesaran, pemberian pakan tambahan seperti ayam tiren sebaiknya digantung, hal ini dilakukan agar meminimalisasikan sisa tulang yang berserakan pada dasar kolam, dengan cara seperti ini, tulang yang tersisa di tali gantungan dapat segera dibuang, sisa tulang yang berserakan bisa sangat berbahaya bagi pelaku ternak lele pada saat panen atau menguras kolam, karena bisa saja terinjak dan melukai kaki atau dapat merobek terpal bagi pengguna kolam terpal.

Semoga saja ulasan ini bermanfaat, diharapkan dengan diterapkannya cara pemberian pakan lele yang baik dan benar, para pelaku usaha ternak lele dapat mencegah resiko lele terserang penyakit atau kerugian lainnya, sehingga angka kematian lebih dapat diminimalisir dan dapat mencapai target produksi yang diinginkan, karena pada prinsipnya, mencegah itu sangat jauh lebih berguna dari pada mengobati.

semoga ber manfaat

budidaya bibit ikan lele di pekarangan dengan kolam terpal


Apabila anda gemar beternak khususnya budidaya ikan dan kebetulan memiliki pekarangan rumah yang luas, maka tak ada salahnya anda manfaatkan pekarangan rumah anda untuk membudidayakan lele. Jenis budidaya ini sebenarnya tak melulu berkesan kotor atau jorok, namun,budidaya ikan lele bisa dikembangkan menjadi sistem budidaya bersih, murah, serta cukup menjanjikan dengan pemberian suplemen organik agar hasilnya maksimal.

Bisnis ternak budidaya lele ini sebenarnya menyimpan potensi keuntungan dan mulai banyak dilirik.  Hal tersebut dikarenakan semakin tingginya kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi ikan sebagai salah satu sumber protein hewani yang tinggi dan harganya pun terjangkau. Mengingat harga daging semakin mahal, ikan mulai dipilih sebagai alternatif lain.  Ikan lele merupakan jenis ikan air tawar dengan kandungan gizi tinggi selain dagingnya yang terasa gurih. Lele kaya kandungan protein dan kalsium untuk menguatkan tulang yang sangat penting untuk pertumbuhan. Selain itu, ikan lele juga memiliki kandungan mineral yang tak kalah penting untuk kesehatan. Dengan berbagai fakta ini, wajar bila ikan lele berpotensi menjadi peluang usaha dengan manfaat ekonomis tinggi.

Meski di masa lalu budidaya lele terkesan tidak higienis, namun sekarang hal ini tidak lagi demikian. Menurut Deden A.S, salah seorang pengusaha budidaya lele, “Sekarang untuk menjalankan usaha budidaya lele, kita sangat terbantu oleh adanya suplemen organik untuk mendapatkan hasil ternak lele yang maksimal”. Deden menambahkan bahwa suplemen organik tersebut fungsinya lebih sebagai penjaga kualitas media hidup lele yakni air, disamping juga mengurangi tingkat kematian bibit lele, serta mempercepat pembesaran bibit apabila dicampur bersama pakannya. Deden sendiri memulai usaha budidaya lelenya sejak 2006, awalnya ia hanya iseng membuat kolam ikan dari terpal di pekarangan rumahnya dengan ukuran 3x3x1 meter kemudian diisinya dengan air hingga kedalaman 70 cm. Melalui penerapan budidaya secara intensif, kolam yang dibuatnya mampu menampung jumlah bibit lele hingga sebanyak 1800-2000 bibit. Sedangkan bibit-bibit tersebut masing-masing berukuran sekitar 10-12 cm. Setelah kolam siap dan bibit lele ditanam, kemudian beri suplemen organik dan pakan secara teratur. Deden mengatakan bahwa dengan menerapkan hal tersebut, selama jangka waktu 45 hari ia telah mampu memanen lele dengan total panen maksimal seberat 200 kg hingga 250 kg.

Memulai usaha budidaya lele

Untuk anda yang berminat dan tertarik mencoba untuk memulai budidaya lele, Deden mencoba untuk memberikan asumsi sederhana perhitungannya. Dimulai dengan pembuatan kolam berbahan terpal yang berukuran 3x3x1 meter. Pembuatan kolam dari terpal tentunya akan menghemat biaya daripada membuat kolam kolam gali atau berbahan semen. “Untuk total biaya menyiapkan terpalnya tidak terlalu sulit diperhitungkan karena terpal sendiri cukup murah per-meternya,” demikian Deden menjelaskan.

Selanjutnya Deden memberikan gambaran perhitungan biaya untuk memulai usaha budidaya lele, mulai dari pembelian bibit ikan lele seharga 300 rupiah/ekor. Untuk kolam berukuran 3x3x1 m mampu menampung bibit sekitar 2000 ekor. Sehingga total biaya yang dikeluarkan sebesar 300 x 2000 ekor = 600.000. Mengingat  jangka waktu pembesaran bibit memakan waktu hingga 45 hari, total kebutuhan pakannya bisa mencapai 90 kg (dengan rata-rata 2 kg/hari). Untuk pakannya sendiri, total biayanya sebesar 660.000 rupiah, dengan asumsi harga pakan sebesar 220.000/karung dan total karung seberat 30 kg. Sedangkan untuk penyediaan suplemen organik memakan biaya 180.000 rupiah/4 botol hingga 45 hari masa pembesaran bibit. Keempat botol suplemen organik tersebut akan digunakan untuk memaksimalkan pertumbuhan bibit lele dan kualitas air. Secara keseluruhannya, total biaya yang diperlukan adalah sebesar Rp 1.440.000. Rngkasan perhitungan biaya perkolamnya adalah sebagai berikut:

Harga  Pakan    : 3 karung x @ Rp 220.000        = Rp    660.000
Harga Bibit Ikan Lele  : 2000 ekor x @ Rp 300           = Rp    600.000
Harga Suplemen Organik : 4 botol x Rp @ 45000            = Rp    180.000 +
Total Biaya                                         Rp 1.440.000

Dengan asumsi perhitungan modal budidaya lele dari Deden tersebut, maka perkiraan keuntungan yang didapat dari 1 kolam saja dengan target jumlah panen sebanyak 2.000 bibit yakni 200 kg sampai 250 kg. Deden menerangkan bahwa harga eceran wajar yang bisa didapatkan adalah sebesar Rp 15.000/kilo. Kemudian untuk harga panen yang dapat dijual ke pembeli atau pasar dapat mencapai harga Rp 12.000/kilo. Sehingga, apabila diambil kesimpulan perkiraan harga terendahnya, keuntungan yang dapat diperoleh sebesar Rp 960.000 tiap kolamnya. Angka keuntungan ini diperoleh dari total penjualan lele sebesar Rp 12.000 x 200 kg = Rp 2.400.000 kemudian dikurangi bea produksi sebesar Rp 1.440.000.

Deden menegaskan, “Apabila panen yang diperoleh hasilnya maksimal, maka berat yang dicapai bisa seberat 250 kg. Sedangkan keuntungan yang dapat diperoleh dari selisih penjualan total dan bea produksi adalah Rp 1.560.000 / kolamnya”. Dari keuntungan penjualan lele tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa budidaya lele dapat menjadi peluang usaha cukup menjanjikan selain kesibukan pokok yang kita lakukan sehari-hari. Dari sisi biaya pun,budidaya ikan lele tidak membutuhkan biaya investasi yang terlalu tinggi, apalagi bila dibudidayakan menggunakan terpal di pekarangan rumah sendiri. Tertarik mencoba?

cara budidaya ikan cupang dan pemijahan

Beternak ikan hias jenis cupang sebenarnya terbilang susah-susah gampang. Namun apabila ditelateni, hobi yang bisa sekaligus dijadikan usaha ini bisa menjanjikan suatu keuntungan, terlebih di zaman sekarang dimana lapangan kerja yang tersedia tidak sebanding dengan jumlah pencari kerja. Untuk memulai ternak ikan cupang, kita mesti terlebih dulu mengetahui langkah-langkahnya.
budidaya ikan cupang sendiri relatif tidak membutuhkan lahan terlalu luas. Lahan yang dibutuhkan hanya sekitar 5 meter persegi. Dari sisi pakan juga cukup gampang disediakan karena ikan cupang tidak membutuhkan pakan khusus. Untuk pakan benih ikan cupang, biasanya diberikan pakan alami seperti daphnia sp atau kutu air yang dapat ditemukan di area-area yang tergenang air seperti selokan. Pada tahap perkembangan, umumnya anak ikan diberi pakan kutu air yang diselingi pemberian cacing rambut. Sedang untuk induk biasanya diberikan pakan berupa jentik-jentik nyamuk. 

Ciri-ciri khusus ikan cupang  

Sebelum mulai beternak ikan cupang, kita perlu mengetahui ciri-ciri khusus yang dimiliki ikan cupang jantan dan betina. Untuk pejantan biasanya memiliki warna yang indah, siripnya panjang agak menyerupai sisir jenis serit. Itulah kenapa ada yang menyebut ikan cupang dengan istilah cupang serit. Sedangkan ikan cupang betina warnanya kurang menarik (agak kusam) dan bentuk siripnya lebih pendek dibandingkan ikan jantan. 
Ikan cupang yang siap untuk dipijahkan juga memiliki ciri-ciri khusus, baik untuk ikan jantan dan betinanya. Ciri-ciri tersebut adalah:

Ikan cupang jantan (berumur kurang lebih 4 bulan)
    - wujud sirip dan badannya panjang dan warnanya indah 
    - memiliki gerakan yang lincah dan agresif 
    - kondisi tubuhnya sehat atau tidak terserang penyakit
Ikan cupang betina (berumur kurang lebih 4 bulan)
    - wujud badan berbentuk bulat putih pada sekitar area perut (menandakan siap kawin)
    - memiliki gerakan lambat 
    - siripnya pendek serta warnanya kurang menarik.
    - keadaan tubuhnya sehat

Pemilihan wadah  

Wadah yang digunakan untuk beternak ikan cupang biasanya berupa akuarium atau bak semen dengan ukuran tidak terlalu besar yaitu sekitar 100 x 40 x 50 cm untuk akuarium dan 1 x 2 m untuk bak semen. Selain itu, sediakan juga wadah untuk pemijahannya dengan ukuran lebih kecil daripada wadah pembesaran semisal akuarium kecil, ember, atau baskom. 

Untuk pembudidayaan secara besar-besaran, gunakan bak semen dengan ukuran sekitar  1.5 x 3 m. Sedang proses pemijahan dilakukan di pinggir bak dengan menggunakan kotak-kotak dari papan yang depannya diberi semacam penyaring dari kasa plastik. Saringan ini digunakan agar benih ikan bisa keluar dari kotak pemijahan dan induknya masih berada di dalam wadah pemijahan. Untuk ukuran kotak yang digunakan sebagai wadah pemijahan yakni sekitar 20 x 20 cm.


Pemijahan 

Ikan cupang berkembang biak dengan cara bertelur. Telur ikan cupang biasanya menempel pada bahan sejenis substrat seperti serabut rapia, akar tanaman, atau daun-daun. Untuk memulai proses pemijahan, kita harus menyiapkan lebih dulu wadah pemijahan. Ketika wadah pemijahan beserta indukan jantan dan betina telah disiapkan, maka pemijahan bisa dimulai. Untuk langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:  

Siapkan wadah berupa akuarium kecil atau baskom yang bersih.

Isikan air bersih ke dalam wadah tersebut hingga ketinggian mencapai 15 – 30 cm

Pisahkan indukan jantan dan betina, beri pakan yang cukup selama 4 - 5 hari

Masukkan indukan jantan terlebih dahulu untuk dibiarkan seharian ke dalam wadah pemijahan yang    sebelumnya sudah diberi substrat atau tanaman air (semacam serabut rapia atau eceng gondok). Tutup wadah menggunakan penutup apa saja 

Setelah 1 hari, maka pada sore harinya indukan betina yang sudah masak telur bisa dimasukan ke dalam tempat pemijahan tersebut. Umumnya menjelang keesokan paginya, ikan sudah bertelur dan telurnya menempel pada serabut rapia atau daun dengan bentuk seperti busa.  

Bila sudah demikian, selekasnya pindahkan induk jantan dan betina untuk proses perawatan telur lebih lanjut 

Selama 2-3 hari, telur tersebut akan menetas. Anak ikan cupang tersebut belum diberi makan dulu karena masih terdapat kuning telur dalam tubuhnya.

Setelah 2-3 hari, kemudian anak-anak ikan cupang tersebut perlu diberi pakan infosuria selama 3 hari, lalu dilanjutkan dengan pemberian pakan kutu air (disaring) selama 10 hari, hingga seterusnya dilanjutkan dengan kutu air yang tanpa disaring.

Pembesaran anak

Ketika anak-anak ikan cupang atau burayak sudah dapat berenang dan kuning telurnya habis, sediakanlah media yang lebih besar untuk wadah pembesaran. Untuk langkah-langkahnya sendiri sebagai berikut:

Pindahkan anakan ikan bersamaan dengan induk jantannya

Beri benih ikan dengan pakan kutu air lalu tutup wadah

Menjelang 10 hari, anak ikan dapat dipindahkan ke wadah lain

Selanjutnya tiap-tiap 1 minggu, pindahkan ikan ke wadah lain agar ikan lebih cepat pertumbuhannya

Panen

Langkah panen bisa dilakukan ketika ikan cupang sudah mencapai umur 1 bulan.  Menjelang umur itu, ikan cupang bisa dipilih atau diseleksi. Ikan yang memiliki kualitas baik dari hasil seleksi bisa dipisahkan dengan meletakkannya ke dalam wadah botol-botol khusus agar dapat tumbuh dengan baik, selain itu juga untuk menghindari perkelahian sesama ikan cupang. Setelah menginjak umur 1.5 sampai 2 bulan, ikan cupang hias akan mulai menampakkan keindahannya, ini tandanya ikan sudah bisa dipasarkan.

Demikianlah langkah-langkah yang bisa kita jadikan acuan untuk mulai beternak ikan cupang Yang pasti, diperlukan suatu ketelatenan dalam melakukan usaha budidaya semacam ini. Beruntung bagi anda yang memang melandasinya dengan kegemaran atau hobi sehingga dapat melakukannya dengan senang hati. Semoga dapat bermanfaat. 

cara budidaya lobster air tawar

Budidaya Lobster Air Tawar


Lobster air tawar (disingkat LAT) adalah binatang air dengan cara pembudidayaan yang mudah. Selain itu harga jualnya juga cukup tinggi yakni sampai 150-250 ribu/kg. Hal inilah yang menjadikan budidaya LATcukup diminati. Habitat asli LAT sediri adalah di rawa-rawa, danau, dan sungai.  

Syarat hidup LAT

 LAT biasanya bisa bertahan hidup pada parameter air cukup lebar. LAT juga toleran pada jumlah oksigen terlarut yang rendah. Namun, untuk bisa tumbuh dengan baik dalam kondisi seperti ini tentunya cukup sulit. Agar bisa tumbuh dengan baik, LAT membutuhkan kandungan oksigen terlarut diatas 4 ppm. Selain itu, LAT cukup toleran pada suhu yang sangat dingin sampai suhu panas diatas 35 °C sekalipun. Namun sebagai saran, sebaiknya LAT dipelihara dalam suhu sekitar 25-29 °C. 

Sedangkan untuk tingkat keasaman air, LAT dapat hidup dalam perairan yang kisaran pH-nya sedikit alkalin yakni antara 7-9. LAT jarang sekali dijumpai hidup pada perairan dengan dengan pH dibawah 7. Untuk kandungan kapur yang diperlukan bagi media hidup LAT adalah sedang sampai tinggi. Kondisi ini perlu dikondisikan untuk menjaga kadar kalsium terlarut tetap tinggi sehingga mendukung pembentukan cangkang LAT.

Media hidup LAT

Media yang bisa digunakan untuk pembudidayaan LAT sangat bervariasi. Umumnya LAT diternakkan secara extensif dalam kolam tanah. Dalam budidaya extensif, peternak lobster hanya meletakkan indukan dalam kolam tersebut ketika kolam dikeringkan. Lobster yang ukurannya sudah mencapai ukuran komersial kemudian dijual sedangkan sisanya dikembalikan lagi ke dalam kolam tanah. Sedangkan pada proses budidaya intensif, peternak mulai memberikan pakan pada lobster dengan bermacam sayur-sayuran termasuk diantaranya pakan komersil. Hasil yang diperoleh menggunakan budidaya intensif mampu memberikan hasil lebih baik daripada budidaya secara extensif.  Selain kolam tanah, media lain untuk budidaya lobster biasanya berupa kolam fiber / tank atau kolam semen. Kolam fiber maupun kolam semen banyak digunakan dalam pembesaran burayak. Di Indonesia sendiri,budidaya LAT banyak ditemukan pada skala rumahan saja, utamanya pada pembenihan.

Kualitas LAT

Dari berbagai laporan sebelumnya, LAT muda diketahui cukup sensitif pada kadar klorin yang tinggi. Oleh sebab itu, disarankan untuk menuakan perairan untuk LAT terlebih dahulu. Faktor lain yang perlu anda ketahui adalah LAT sering digunakan sebagai indikator terjadinya pencemaran lingkungan, hal ini karena LAT mampu mengakumulasikan jumlah merkuri yang ada dalam tubuhnya. LAT juga sensitif pada pestidida (utamanya dari kelompok organoklorin) dan residu-residu minyak. Maka dari itu, bagi anda yang hendak membudidayakan LAT, sebaiknya cek terlebih dahulu kondisi sumber air anda untuk pembudidayaan LAT.

Pembenihan dan pembesaran

Budidaya LAT umumnya dibedakan ke dalam usaha pembenihan dan pembesaran LAT, maupun gabungan keduanya. Pembenihan merupakan usaha budidaya untuk menghasilkan anakan atau bibit LAT sampai ukurannya mencapai 2 inci. Hal pertama yang dibutuhkan adalah menyediakan induk lobster berkualitas yang tak mudah terkena penyakit. Selain itu, usahakan indukan tidak berasal dari perkawinan sedarah. Karena perkawinan sedarah dapat menghasilkan lobster intersex atau berkelamin ganda. Untuk pengawinan, kolam yang digunakan untuk 1 set-nya berukuran maksimal 1 meter persegi (3 jantan dan 5 betina). Media yang digunakan cukup kolam semen atau aquarium.

 Sedangkan pembesaran adalah proses menghasilkan lobter dengan ukuran konsumsi. Untuk pembesaran yang dibutuhkan berupa bibit LAT berukuran 2 inci. Selanjutnya berupa area yang cukup luas, sebaiknya gunakan kolam tanah berukuran maksimal 1 meter persegi per 10 ekornya. Selama pembesaran, pisahkan betina dan jantan agar tidak terjadi perkawinan. Lobster jantan memiliki pertumbuhan lebih cepat, maka dari itu sebaiknya pembesaran dilakukan pada pejantan.

Jenis-jenis pakan 

Agar LAT tumbuh sesuai harapan, pakan yang hendak diberikan harus cukup kandungan nutrisinya sesuai dengan kebutuhan. Berikut contoh pakan-pakan lobster: 

Pakan alami. Pakan alami umumnya dibudidayakan sendiri oleh peternak. Namun, sebagian mrasa kesulitan karena terbatasnya sarana serta prasaran yang ada. Jenis pakan alami contohnya chlorella, dunaleilla, tetraselmis, spirulina, diatone, kutu air, artemia, cacing rambut, jentik nyamuk, cacing darah dan cacing tanah. 

Pakan buatan sendiri. Pakan jenis ini biasaya diracik sendiri oleh peternak menggunakan bermacam bahan seperti: tepung ikan, tepung rebon, wortel, cacing, kacang hijau, keong mas, dan toge. Pakan racikan biasanya dibentuk pasta atau pellet.

Pakan komersil. Pakan komersil berupa pakan siap pakai yang dihasilkan oleh perusahaan pembuat pakan ikan. Pakan sebaiknya diberikan sebanyak 3% dari bobot LAT serta diberikan pada sore atau pagi hari. Bila pakan tidak seluruhnya habis, sebaiknya segera dibuang dan jangan disertakan pada pemberian pakan selanjutnya.

Penyakit-penyakit pada lobster air tawar

Meski LAT dikenal tahan penyakit daripada jenis udang lainnya, namun tak berarti bebas dari serangan penyakit. Umumnya penyakit yang menyerang lobster disebabkan virus. Virus yang sering menyerang lobster pada masa pembesaran diantaranya:

Ricketsia-like organism
LAT  yang terserang virus ini umumnya melemah dan terkadang menunjukkan tanda bintik biru kehijauan atau hitam pada bagian eksokoletonnya. LAT yang terserang virus ini dan mati biasanya kepala dan badannya terpisah.

White Spot Disease 
Penyakit ini disebabkan virus dan dapat mengakibatkan sisi kolam mengalami kematian. Untuk mencegah serangan virus jenis ini, ada beberapa cara yang dapat dilakukan:

- Kurangi kepadatan lobster dalam kolam
- Hindari memasukkan LAT yang terkena infeksi
- Bersihkan alat atau sarana yang telah terinfeksi
- Jaga tingkat keasaman air dan kadar ammonia 
- Hindari penggunaan air yang telah digunakan untuk pembudidayaan udang lain

Jamur atau Crayfish Plague
LAT yang terkena infeksi jamur ini biasanya dari kelompok astacus astacus yang asalnya dari Eropa. Virus ini dapat menular melalui alat budidaya yang digunakan atau kutu jenis asphanomices astaci.
Selain beberapa virus di atas, gangguan lain terhadap  LAT yang sering ditemukan berasal dari hama, seperti tikus, ular, lele, ikan gurami, dan burung.

Panen 

Sebaiknya lakukan panen di suhu yang tak terlalu panas, seperti sore, malam, atau pagi hari. Ada beberapa teknik yang digunakan untuk panen lobster:

Flow trapping
Caranya:
- Turunkan ketinggian air kolam hingga 2 cm, kemudian tempat persembunyian lobster dikeluarkan dari dalam kolam.
- Letakkan kotak penampung pada sisi kolam, lalu tempatkan tempat aerator di kotak penampung guna mencegah menipisnya oksigen.
- Atur papan hingga menyerupai posisi papan luncur, mulai dari dasar menuju sisi kolam hingga persis di atas wadah penampung tadi.
- Aliri papan tersebut dengan air.
Naluri lobster yang selalu mencari sumber air segar akan mengarahkannya menuju aliran air pada papan. Lobster akan tergerak untuk memanjatnya dan setelah tiba di atas papan, lobster akan jatuh menuju kotak penampungan. 

Perangkap Tikus
Teknik ini melibatkan perangkat tikus biasa seperti yang digunakan di rumah-rumah, namun bagian depan atau pintu perangkapnya dipasangi corong.
Caranya:
- LAT tidak usah diberi makan sebelum panen.
- Atur sedemikian rupa perangkap tikus setelah sebelumnya dipasangi umpan untuk LAT
- Umpan yang dipasang biasanya keong mas atau ikan 
- Sebaiknya bakar dulu umpan untuk memicu timbulnya aroma 
Air kolam tak perlu diturunkan bila memanen menggunakan cara ini. 

Tips budidaya lobster air tawar (LAT)

1) Bila hendak terjun dalam usaha budidaya LAT ini, tentukan dulu pilihan anda terkait segmen mana yang dipilih, apakah sebagai pedagang saja, usaha pembesaran, usaha pembibitan, atau ternak untuk koleksi atau hobi. Hal ini penting agar usaha yang dijalankan bisa fokus sesuai segmen. 

2) Gunakan indukan lobster berukuran besar untuk produksi bibit. Sedangkan untuk memacu pertumbuhan bibit yang berukuran 2 cm, berikan tambahan makanan ekstra seperti cacing sutra. Untuk percepatan proses bertelur, berikan makanan tambahan cacing tanah untuk lobster yang dikawinkan. Untuk merangsang proses pergantian kulit, gantilah air aquarium sesering mungkin (3 hari sekali atau 1 minggu sekali) tergantung pada kekeruhan airnya.

3) Berikan makanan ekstra / tambahan secukupnya khususnya di malam hari, kira-kira pukul 19.00~21.00, periksa kemudian lanjut berikan pakan pelet, jika sudah tidak terlihat sisa pakan yang diberikan di sore hari. Ini perlu dilakukan untuk menghindari sifat saling serang antar sesama Lobster terkait sifat kanibalisme tinggi pada lobster. Selain itu karena aktivitas lobster meningkat di malam hari dalam mencari mangsa. 

4) Lakukan pemantauan sesering mungkin guna menghindari serangan dari kelompok lobster yang lain pada Lobster yang berada dalam proses pergantian kulit. Hal ini karena lobster yang sedang mengalami pergantian kulit biasanya fisiknya lemah dan mengeluarkan semacam cairan yang bisa memicu sifat kanibal lobster lain sehingga melakukan penyerangan. Pasang juga alat pengaman pada aquarium atau kolam untuk menghindari lobster yang kabur terkait sifat pengembaraan lobster yang tinggi serta kemampuannya bertahan hidup sampai 8 - 12 jam dalam kondisi diluar aquarium / kolam.

5) Apabila anda memilih budidaya untuk pembesaran, maka siapkan kolam pembesaran dimulai dengan skala yang kecil guna mendapatkan pengetahuan seputar sifat-sifat spesifik lobster, salah satunya berupa sifat kanibalisme lobster yang tinggi. Bila pengetahuan tersebut telah dikuasai, mulailah melakukan prencanaan produksi dan target panen tiap bulannya.

6) Usaha pembibitan sama seperti budidaya pembesaran, namun usaha pembibitan sifatnya lebih sensitif. Sebaiknya lobster dibiarkan dulu sampai menginjak usia +/-1.5 bulan, kemudian baru dipindahkan menuju kolam pembesaran. Lobster memang lebih cocok hidup pada iklim tropis bersuhu udara 24-30 derajad celcius. Begitu pula dengan kondisi air, anda perlu memperhatikan kondisi air untuk burayak (anak lobster yang baru saja dipisahkan dari indukan). Gunakanlah cairan atau alat pengukur Ph / keasaman air, jika Ph air tak ideal (Ph air yang ideal bagi LAT antara 7-9) maka atasi dengan memberikan zat tambahan additive Ph up maupun Ph Down, untuk mempetahankan Ph yang ideal. 

7) Pilihan  dan rencanakan lokasi untuk penempatan aquarium / kolam di tempat yang tidak bising dikarenakan lobster mudah stress. Hindari juga lingkungan yang bisa memunculkan hama pemangsa seperti kucing, tikus, dan lainnya. Caranya bisa juga dengan memasang kawat pelindung seperti kawat ayam atau sejenisnya. Jaga ketinggian air sekitar 15-20 cm serta berikan cukup suplai oksigen melalui pemasangan filter pump dan aerotor.

Demikianlah informasi penting seputar cara budidaya lobster air tawar untuk anda ketahui. Apabila telah menemukan kemantapan hati untuk memulai budidaya lobster air tawar, tentunya informasi ini bisa sangat membantu. Selamat mencoba. 

cara budidaya belut dan perawatan dari benih

Budidaya Belut


Budidaya belut sebenarnya bukanlah sesuatu yang asing bagi masyarakat kita. Sebagian besar masyarakat sudah sangat familiar dengan hewan yang satu ini dikarenakan pemanfaatan belut untuk konsumsi sudah menjadi suatu hal yang sangat lazim. Belut meski penampilannya sebagian menyerupai ular dan licin, namun belut tergolong ke dalam jenis ikan dengan rasa lezat dan kandungan protein tinggi. Hal ini rupanya berkebalikan dengan tampilan luarnya yang bagi sebagian orang agak menyeramkan. Karena permintaan belut yang tak pernah surut dari pasaran, maka budidaya belut juga terus menggeliat. Bagi anda yang tertarik untuk memulai usaha budidaya belut, ada baiknya anda ketahui beberapa hal sebelum memulainya usaha budidaya tersebut. 

Penyiapan peralatan dan sarana 
Perlu anda ketahui bahwa kolam yang digunakan untuk budidaya belut terbagi atas kolam pemijahan atau kolam induk, kolam pendederan (diperuntukkan bagi benih belut yang berukuran 1-2 cm), kolam untuk belut remaja (diperuntukkan bagi belut dengan ukuran 3-5 cm), serta kolam untuk memelihara belut konsumsi (digolongkan ke dalam 2 tahapan, yang masing-masing tahapannya membutuhkan waktu sekitar 2 bulan). Kolam yang terakhir ini diperuntukkan bagi belut berukuran 5-8 cm hingga mencapai 15-20 cm serta untuk memelihara belut berukuran sekitar 15-20 cm hingga mencapai 30-40 cm.

Bangunan kolam untuk ikan belut umumnya relatif sama, yang membedakan hanyalah kapasitas, ukuran, serta daya tampung ikan belut. Ukuran kolam untuk induk ikan belut memiliki kapasitas 6 ekor/m2. Sedangkan untuk kolam pendederan (belut berukuran 1-2 cm), memiliki daya tampung sebanyak 500 ekor/m2. Kolam yang diperuntukkan bagi belut remaja (belut berukuran 2-5 cm) memiliki daya tampung 250 ekor/m2. Selanjutnya kolam untuk belut konsumsi di tahap pertama (untuk ukuran 5-8 cm) berdaya tampung 100 ekor/m2, sedangkan untuk tahap kedua (berukuran 15-20cm) memiliki daya tampung 50 ekor/m2. Kolam pemeliharaan tahap kedua ini digunakan untuk memelihara belut hingga kelak panjangnya mencapai 30-50 cm pada saat pemanenan. Untuk pembuatan kolamnya sendiri, bahan dindingnya sebaiknya disemen, sedangkan bagian dasar bak tak perlu diplester.

Hal lain yang perlu disiapkan selain kolam adalah ketersediaan sumber air, media untuk dasar kolam, ember plastik, alat penangkap belut sesuai kebutuhan, serta peralatan yang lain. Media untuk dasar kolam bisa menggunakan bahan-bahan organik berupa pupuk kandang, jerami padi, dan sekam padi. Untuk cara pengaplikasiannya, kolam kosong yang belum diisi air dilapisi lapisan dasar berupa sekam padi hingga ketebalan 10 cm, kemudian atasnya ditimbun menggunakan pupuk kandang hingga ketebalan 10 cm, dan bagian atasnya ditimbun lagi dengan jerami kering atau ikatan-ikatan merang. Setelah pengaplikasian timbunan bahan organik rampung (tebal keseluruhan timbunan mencapai 30 cm), baru kemudian air diisikan ke kolam hingga ketinggian mencapai 50 cm (total ketinggian bahan organik dan air). Selanjutnya, biarkan media tersebut selama beberapa saat hingga kondisinya menyerupai lumpur sawah. Bila sudah demikian, baru masukkan belut dalam kolam.

Penyiapan bibit
Ukuran panjang anak belut untuk pemeliharaan intensif kira-kira sekitar 5-8 cm. Anakan belut ini dipelihara hingga 4 bulan lamanya melalui 2 tahapan yang tiap-tiap tahapannya memakan waktu 2 bulan. Bibit ikan belut bisa diperoleh melalui pembudidayaan dalam kolam / bak pembibitan maupun melalui sarang-sarang bibit di alam. Sedangkan belut yang dipilih untuk pemijahan biasanya adalah belut jantan dengan ukuran ± 40 cm dan belut betina dengan ukuran ± 30 cm. 

Pemijahan dilakukan dalam kolam pemijahan yang memiliki kapasitas 1 ekor pejantan dan 2 ekor betina, sedangkan luas kolam sebesar 1 meter persegi. Waktu pemijahan berlangsung kira-kira selama 10 hari hingga telur-telur belut kemudian menetas. Setelah menetas, anak belut akan terus tumbuh dan kira-kira mencapai ukuran sekitar 1.5–2.5 cm pada usia 5-8 hari. Ketika belut mencapai ukuran ini, segera ambil dan langsung tempatkan pada kolam pendederan untuk calon bibit / calon benih. Anak belut dipelihara dalam kolam pendederan selama kurang lebih 1 bulan hingga ukurannya mencapai 5-8 cm. Dalam ukuran tersebut, anak belut dapat juga ditempatkan pada kolam belut konsumsi selama kurang lebih 2 atau 4 bulan.

Perawatan bibit
Anak belut yang didapat dari pemijahan ditampung dalam kolam pendederan untuk calon benih hingga 1 bulan. Usahakan selama masa ini benih diperlakukan secermat mungkin untuk menghindari banyak kehilangan. Air yang digunakan untuk kolam ini akan lebih baik bila menggunakan air mengalir. 

Pemeliharaan pembesaran
Pemupukan
Jerami yang telah lapuk sangat diperlukan untuk menciptakan pelumpuran yang cukup subur. Pupuk kandang sebagai bahan organik utama selain jerami juga tak kalah penting.  
Pemberian pakan
Bila perlu, belut bisa juga diberi pakan tambahan berupa kecoa, belatung (ulat besar), dan cacing yang diberikan kira-kira tiap sepuluh hari sekali.
Pemberian vaksinasi
Jangan lupa untuk memberikan vaksinasi agar ketahanan belut terjaga. 

Pemeliharaan tambak dan kolam 
Hal yang penting untuk diperhatikan dalam pemeliharaan belut yakni menjaga kolam dari berbagai gangguan luar serta mengkondisikan agar kondisi kolam tidak beracun.

Penyakit dan hama
Penyakit yang sering menyerang belut umumnya disebabkan oleh beberapa organisme dari tingkat rendah semisal bakteri, jamur, protozoa, dan virus berukuran kecil. Sedangkan hama yang menyerang belut merupakan binatang dari tingkat tinggi seperti ular, berang-berang, katak, serangga, musang air, burung, serta ikan gabus yang langsung memberikan gangguan pada kehidupan belut. Selain itu, ada juga hama dari lingkungan sekitar rumah seperti kucing. Pemeliharaan ikan belut melalui cara intensif tidak sering diganggu hama.

Panen 
Pemanenan belut ada 2 jenis yakni:
Berupa bibit / benih yang kemudian dijual untuk keperluan budidaya / ternak.
Berupa ikan belut hasil akhir budidaya yang siap jual untuk keperluan konsumsi (untuk panjang dan besarnya sesuai permintaan konsumen).

Untuk cara penangkapannya sendiri sama seperti cara penangkapan ikan lain yakni menggunakan peralatan seperti jala / jaring bermata lembut, bubu / posong, menggunakan kail atau pancing, serta melalui pengeringan air dalam kolam sehingga tinggal mengambil belut saja.

Pascapanen 
Pada kondisi pemeliharaan belut untuk tujuan komersial dan jumlah cukup besar, perhatian yang lebih serius perlu diberikan pada penanganan belut pasca panennya. Hal ini untuk menjaga kualitas belut agar bisa diterima konsumen, sehingga jaringan pemasaran menjadi semakin luas.

Demikianlah informasi seputar cara budidaya belut. Semoga dapat memberikan anda wawasan tambahan yang bermanfaat.

pemijahan dan perawatan larva ikan gabus

Budidaya Ikan Gabus

Budidaya ikan gabus yang khususnya ditujukan untuk keperluan konsumsi masih jarang dilakukan di kalangan peternak ikan. Hal ini karena permintaan ikan gabus cukup sedikit di pasaran. Ikan gabus sendiri adalah jenis ikan air tawar yang liar dan termasuk pemangsa benih yang cukup rakus dan ditakuti para peternak ikan. Ikan gabus merupakan jenis ikan yang buas (carnivore bersifat  predator). Selain itu, ikan gabus memiliki banyak nama diantaranya aruan dari kata haruan (bahasa banjar dan melayu), kocolan (betawi); licingan, bogo, bayong, kutuk (bahasa jawa); dan sebagainya.

Pada daerah-daerah yang memiliki aliran sungai cukup besar seperti Kalimantan dan Sumatera, ikan gabus sering ikut terbawa banjir menuju parit-parit di lingkungan rumah, atau bahkan masuk ke dalam kolam-kolam ikan peliharaan dan menjadi pemangsa ikan-ikan peliharaan. Apabila kolam, parit, atau sawah mengering, ikan gabus akan berusaha pindah menuju tempat lain, dan bila terpaksa ia mampu mengubur diri dalam lumpur sampai tempat tersebut kembali berair. Jenis ikan bisa mampu bertahan hidup di lingkungan tanpa air sebab ikan gabus dalam pernapasannya bisa menyerap kandungan oksigen bebas dengan menggunakan alat pernapasan bernama “labirin”.

Sifat predator ikan gabus

Ikan gabus biasanya menyambar mangsanya hingga di permukaan. Maka dari itu, kehadirannya bisa segera diketahui bila ia masuk ke dalam kolam ikan peliharaan lainnya. lkan gabus biasanya bersembunyi di dekat tanaman air bila hendak menyambar mangsanya (sehingga mangsa tidak melihat kehadirannya), kemudian secara tiba-tiba ia akan meluncur menuju mangsa dan menelannya langsung. 

Bagi anda yang kebetulan memelihara ikan lain dan ingin mencegah ikan gabus agar tidak masuk ke kolam ikan peliharaan, maka di saat pengolahannya, usahakan dasar kolam benar-benar kering hingga terlihat retak-retak sehingga ikan gabus tidak mungkin dapat bertahan hidup. Caranya. biarkan dulu dasar kolam mengering di bawah terik sinar matahari hingga beberapa hari. Kemudian pasang semacam jaring di bagian saluran masuk kolam yang terbuat dari ijuk rapat, sehingga telur dan benih gabus tidak dapat masuk ke dalam kolam bersama dengan aliran air.

Bila dalam kolam peliharaan ternyata ditemukan ikan gabus, maka segera tangkap. Populasinya sendiri biasanya tidak terlalu banyak. Gabus bisa dipancing mengggunakan umpan seperti anak kodok dan ikan kecil. Sedangkan untuk cara memancingnya termasuk unik, yakni dengan cara menggerak-gerakkan umpan pada permukaan air. Gerakan umpan tersebut akan mengundang gabus untuk segera menyambarnya karena disangka sebagai mangsanya. 

Berbicara mengenai budidaya ikan gabus, sebenarnya tidak terlalu susah. Anda juga tidka perlu melakukan pemijahan buatan, namun cukup dengan melakukan pemijahan alami. Hal ini dikarenakan ikan gabus telah akrab dengan kondisi perairan kita. 

Memilih betina dan pejantan gabus yang siap kawin

Betina dan pejantan ikan gabus yang siap kawin dapat dibedakan dengan cara cukup mudah, yakni dengan mengamati tanda-tanda yang terdapat pada tubuhnya. Betina biasanya ditandai dengan bentuk kepala yang membulat, perutnya lembek dan membesar, warna tubuhnya cenderung terang, dan bila diurut akan keluar telur. Pejantan sendiri ditandai dengan bentuk kepala yang lonjong, warna tubuhnya cenderung gelap, lubang pada kelamin memerah, serta akan mengeluarkan cairan putih agak bening ketika diurut. Sedangkan induk jantan yang hendak dikawinkan harus mencapai bobot 1 kg.

Pemijahan ikan gabus

Pemijahan ikan gabus bisa dilakukan dalam wadah fibreglass atau bak beton. Caranya, siapkan bak beton dengan ukuran panjang sekitar 5 m, lebar sekitar 3 m, dan ketinggian 1 m, selanjutnya keringkan dulu kira-kira 3–4 hari. Kemudian masukkan air hingga kedalaman 50 cm, biarkan air mengalir selama masa pemijahan. Untuk perangsang pemijahan, taruh tanaman eceng gondok sampai menutupi sebagian besar permukaan bak, kemudian masukkan kira-kira 30 ekor betina gabus, lanjutkan dengan memasukkan 30 ekor pejantan gabus. Lalu biarkan ikan gabus memijah. Setelah bertelur, ambil telur menggunakan sekupnet halus, dan telur siap ditetaskan.

Untuk mengecek terjadinya pemijahan, perlu dilakukan pengontrolan tiap harinya. Telur yang dikeluarkan akan mengapung pada permukaan air. Untuk seekor induk betina gabus biasanya mampu menghasilkan telur hingga 10.000 – 11.000 butir.

Peenetaskan telur ikan gabus

Penetasan telur ikan gabus dilakukan di dalam akuarium. Caranya, siapkan lebih dahulu sebuah akuarium dengan ukuran panjang sekitar 60 cm, lebar kira-kira 40 cm, dan ketinggian 40 cm. Lalu keringkan dulu sampai 2 hari lamanya, kemudian isi dengan air bersih hingga ketinggian 40 cm. Lalu atur 2 buah titik untuk aerasi dan nyalakan selama penetasan. Jangan lupa untuk memasang pemanas air sampai suhu mencapai 28 derajad Celcius. Selanjutnya, masukkan telur hingga kepadatan sekitar 4–6 butir/cm persegi, lalu biarkan menetas. Telur-telur tersebut akan segera menetas dalam jangka waktu 24 jam. Hingga 2 hari lamanya, larva tak perlu diberikan pakan sebab ia masih memiliki makanan cadangan.

Pemeliharaan larva gabus

Pemeliharaan larva dapat dilakukan 2 hari setelah penetasan hingga larva mencapai umur 15 hari. Pemeliharaan larva bisa dilakukan di dalam akuarium dengan kepadatan sebanyak 5 ekor/liter. Sedangkan kelebihan larva yang ada bisa dipelihara pada akuarium lain. Ketika berumur 2 hari, beri larva pakan naupli artemia hingga 3x sehari. Ketika sudah berumur 5 hari, beri larva pakan tambahan secukupnya seperti daphnia sebanyak 3x sehari. Agar kualitas air tetap terjaga, lakukan pembersihan sisa pakan dan kotoran serta mengganti air yang kotor dengan air yang baru hingga 50 persennya. Pembersihan ini dilakukan tiap tiga hari sekali, dan tergantung pula dengan kualitas airnya.

Budidaya Ikan Gabus melalui pendederan

ikan gabus yang dibudidayakan melalui pendederan dapat dilakukan pada kolam tanah. Untuk caranya, siapkan terlebih dahulu kolam berukuran 200 meter persegi; lalu keringkan selama kurang lebih 4 – 5 hari; jangan lupa perbaiki semua bagiannya. Selanjutnya buatkan kemalir selebar kurang lebih 40 cm dengan ketinggian 10 cm; kemudian ratakan tanah di dasarnya. Lanjutkan dengan menebarkan kotoran puyuh atau ayam sebanyak 5–7 karung; lalu isi air hingga ketinggian 40 cm; rendam sekitar 5 hari lamanya (air dibiarkan / tidak perlu dialirkan). Lalu tebar larva kurang lebih sekitar 4.000 ekor di pagi hari. Menjelang 2 hari berikutnya, berikan pelet atau tepung pelet sebanyak 1–2 kg yang sudah direndam tiap harinya. Pemanenan benih dapat dilakukan setelah ikan menginjak usia 3 minggu.



Itulah informasi yang bisa anda ketahui seputar cara budidaya ikan gabus. Ikan gabus yang dibudidayakan untuk konsumsi sendiri sebenarnya cukup menguntungkan. Selain rasanya enak dan gurih, gabus juga terkenal kaya akan protein. Semoga bermanfaat.

pembesaran bibit lele dengan pakan organik

Budidaya lele organik memiliki beberapa kelebihan dibandingkan budidaya lele biasa atau non-organik. Kelebihan ini khususnya terkait dengan penghematan biaya untuk pakan, serta manfaat untuk kesehatan dan rasanya sendiri. Budidaya lele saat ini sudah banyak ditemukan karena peminat lele memang cukup banyak. Namun, tak sedikit pula yang mengalami gulung tikar dikarenakan pakan lele yang harganya terus melambung. Tingginya harga pakan lele ini tak sebanding bila melihat jerih payah selama budidaya dan hasil panen yang didapatkan. Akan tetapi untuk peternak ikan lele organik, melambungnya harga pakan tersebut tidak jadi masalah. Hal ini karena mereka memang tidak menggunakan jenis pakan pabrikan yang mahal, namun membuat sendiri pakan lele berbahan dasar kotoran sapi..

Budidaya lele organik disini maksudnya budidaya ikan lele dengan pemberian pakan organik berbahan dasar kotoran sapi tadi. Budidaya lele organik sebenarnya memiliki manfaat cukup banyak. Beberapa diantaranya adalah:

 Menekan biaya perawatan
 Kandang sapi lebih bersih
 Penggantian air kolam tidak perlu dilakukan
 Tidak menghasilkan bau busuk pada air kolam
 Menghasilkan pendapatan tersendiri untuk para peternak sapi
 Rasa lele organik lebih gurih
 Lebih aman bagi kesehatan
 Harga jual lele organik lebih tinggi dan bobotnya lebih berat
 Air bekas kolam lele organik cukup baik untuk pemupukan tanaman
 Memiliki kandungan kolesterol lebih rendah dan gizi yang lebih tinggi
 dan sebagainya

Dari segi biaya, budidaya lele organik cukup menghemat biaya karena harga pakan pabrikan untuk ikan lele yang bentuknya pellet terus melambung. Saat ini saja harganya sudah melebihi Rp.8.000/kg. Sedangkan pakan organik lele dapat diperoleh seharga Rp.2.000/kg.

cara budidaya benih ikan mas tombro karper




Ikan mas adalah jenis ikan paling populer dibandingkan berbagai jenis ikan tawar yang lain. Selain itu, ikan ini sudah sejak lama dibudidayakan. Ikan mas memiliki beberapa sebutan lain seperti ikan tombro atau ikan karper. Ikan mas sendiri sebenarnya sudah banyak melalui bermacam persilangan. Dari persilangan itu dihasilkan ikan mas dengan jenis baru, contohnya  ikan ini sudah banyak sekali mengalami persilangan. Dan dari persilangan tersebut menghasilkan ikan mas jenis si nyonya, merah, taiwan, kaca, majalaya, kumpai, serta masih banyak jenis lainnya. Bagi anda yang berniat untuk memulai usaha budidaya tombro sebaiknya mempelajari dulu cara-cara pembudidayaannya sebelum terjun langsung di dalamnya. Untuk budidaya ini sebenarnya tak terlalu sulit karena ikan ini sudah sangat populer di masyarakat. Untuk itu, berikut akan kami berikan informasi seputar cara mudah pembudidayaannya

Tujuan budidaya
Tujuan usaha budidaya karper sebenarnya bisa anda tentukan sendiri sesuai dengan minat dan kondisi. Namun pada umumnya, pembudidayaan dan pembesaran ikan mas untuk tujuan konsumsi menjadi satu target yang banyak dilirik peternak ikan.

Media hidup
Untuk memulai budidaya ikan mas, hal pertama yang perlu kita perhatikan adalah persiapan media hidup ikan mas itu sendiri. Habitat ikan mas sejatinya adalah di area sungai, danau, maupun area perairan lainnya yang memiliki ketinggian kira-kira 150-600 m di atas permukaan laut dan dengan suhu perairan sekitar 20-25 derajat celcius. Media hidupnya berupa kolam yang dibentuk menyerupai lingkungan habitat asli ikan tersebut. Sedangkan untuk bentuk budidayanya dapat menggunakan bermacam model semisal kolam dengan jala terapung, bisa juga kolam tanah dengan bentuk yang sederhana, kolam dengan aliran air yang cukup deras, atau kolam yang berbahan beton maupun model lainnya sesuai dengan kondisi dan lokasi budidaya.

Faktor lain yang juga penting adalah pH air. Tingkat keasaman atau pH air harus dipastikan berada pada angka 7 hingga 8. Selain itu, kadar oksigen terlarut haruslah dalam kondisi cukup dan pastikan media hidup ikan jauh dari bermacam kontaminasi zat-zat kimia berbahaya.

Makanan
Kondisi kolam ikan mas yang dibuat menyerupai habitat asli ikan tersebut bisa  menguntungkan terkait sifat ikan mas yang termasuk pemakan segala (omnivora), sehingga  ikan mas bisa memakan cacing, dedaunan, lumut, dan sebagainya yang ditemui di kolam tersebut. Namun, perlu diingat bahwa konsumsi pakan alami seperti ini harus anda sesuaikan waktunya dengan pemberian pakan khusus (pelet).

Pembibitan
Penyediaan bibit ikan mas umumnya  dimulai dari anakan ikan atau istilahnya burayak yang baru saja menetas. Burayak yang dijadikan bibit umurnya menginjak 1 bulan. Ada juga yang dijadikan bibit ketika menginjak umur 2 bulan. Oleh sebab itu, ikan mas pada semua usia dapat menjadi peluang ekonomis karena memiliki nilai jual sebagai bibit ikan.

Memilih indukan
Sebelum memulai pemijahan, perlu dilakukan pemilihan induk jantan dan betina yang tepat. Pertama, pisahkan induk jantan dan betina dalam kolam yang terpisah. Sedangkan, pakan yang diberikan berupa pelet dengan sekitar 25% kandungan protein. Untuk takarannya, pakan diberikan kira-kira 3% dari berat biomas tiap harinya. Pakan diberikan dengan frekuensi 3x sehari. Ikan mas yang dipisahkan sebagai induk betina pemijahan sebaiknya sudah menginjak umur 1,5 - 2 tahun dan beratnya diatas 2 kg. Sementara untuk induk jantan, sebaiknya dipilih ikan mas yang berumur 8 bulan dan bobotnya diatas 0,5 kg. Sedangkan untuk membedakan ikan mas jantan dan betina yang sudah siap untuk dipijahkan, berikut ada tips yang bisa dicoba.

Ciri-ciri ikan mas betina siap pijah:
- Gerak-geriknya agak lamban
- Menjelang malam ikan sering meloncat-loncat
- Perut nampak membesar ke bagian belakang serta terasa lunak bila dirasakan
- Lubang anus berwarna kemerahan dan agak menonjol

Ciri-cirinya ikan mas jantan siap pijah:
- Gerakannya lincah
- Apabila dipijit di bagian kelaminnya akan mengeluarkan cairan bening keputihan semacam sperma

Pemijahan
Dalam proses pemijahan ikan mas, perlu dilakukan perangsangan pada ikan dengan cara mengkondisikan lingkungan kolam agar mirip dengan kondisi perairan asli ikan ini hidup dan melakukan perkawinan alaminya. Cara lainnya bisa juga dirangsang dengan bantuan hormon. Cara pemijahan ikan mas paling tepat perlu mempertimbangkan hal-hal berikut:

 Bersihkan dan keringkan kolam atau bak pemijahan.

 Wadah pemijahan selanjutnya diisi air dengan ketinggian kira-kira 75-100 cm.

 Panen larva ke depannya bisa dipermudah melalui pemasangan hapa pada kolam atau bak dengan ukuran 4 x 3 x 1 m. Pasang pemberat agar hapa tidak mengapung.

 Pasang kakaban pada kolam pemijahan ikan mas. Contoh kakaban misalnya berupa ijuk yang dijepit papan dengan ukuran 1,5×0,4 meter.

 Induk betina dan jantan ikan mas sudah siap pijah selanjutnya dimasukkan ke dalam kolam yang sudah disiapkan. Jumlah induk betina siap pijah yang dimasukkan tergantung kebutuhan akan benih yang dihasilkan dan luas kolam untuk pendederan nantinya. Satu ekor induk betina dapat dipasangkan dengan induk jantan hingga 2 atau lebih tergantung bobot tubuh induk betina ikan mas tersebut.

 Setelah pemijahan, angkat kedua indukan lalu pindahkan ke dalam kolam pemeliharaan untuk induk.

 Proses penetasan telur menjadi larva berlangsung setelah telur mencapai umur 4 hari. Larva tersebut masih perlu diberikan pakan cadangan berbahan dasar telur, juga pakan tambahan berupa kutu air atau pelet khusus untuk larva. Untuk pakan yang berbahan dasar telur bisa menggunakan telur rebus di bagian kuningnya. Larva tersebut selanjutnya siap dilepas ke dalam wadah pembenihan setelah usianya menginjak sekitar 5 hari.

Pendederan  dan pemanenan
Proses pendederan pada ikan mas bisa dimulai setelah larva sudah kuat. Proses ini sendiri biasanya memanfaatkan sawah atau kolam lumpur meskipun bisa juga menggunakan kolam semen. Untuk caranya, ratakan dahulu tanah bagian dasar kolam bila anda menggunakan jenis kolam tanah, lalu taburkan kotoran ayam kira-kira 10-15 karung. Selanjutnya alirkan air ke dalam kolam hingga ketinggiannya kurang lebih mencapai 40 cm lalu rendam atau diamkan kolam selama 5 hari tanpa dialiri air. Hal ini dimaksudkan untuk membentuk sumber pakan alami dan plankton di tempat pendederan. Kemudian sebarkan kira-kira 100.000 larva ikan ke dalam kolam lumpur berukuran 100 m2 pada pagi hari, jangan lupa berikan pakan semisal pelet yang telah direndam sebelumnya. Untuk pemanenan, ikan mas telah siap untuk dipanen ketika umurnya sudah menginjak 3 minggu. Untuk proses selanjutnya biasanya ikan mas dijual maupun dipelihara lagi di kolam yang lain.

Demikanlah informasi singkat seputar cara mudah budidaya ikan mas. Setelah anda mempelajari informasi diatas, pastinya dapat anda simpulkan bahwa budidaya ikan ini ternyata tidak sesulit perkiraan banyak orang. Intinya semua usaha memerlukan suatu ketekunan agar dapat membuahkan hasil. Semoga bermanfaat.



sumber:cara budidaya sukses.com