Yuk Budidaya Ikan Sidat. Harganya Selangit

Yuk Budidaya Ikan Sidat. Harganya Selangit
ATI
Budidaya ikan Sidat di Kabupaten Banyuwangi 
SRIPOKU.COM, BANYUWANGI - Perkembangan sidat, ikan air tawar yang menyerupai ular di wilayah Banyuwangi terus menggeliat.
Menurut Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Pudjo Hartanto ada sekitar 10 kelompok tani yang sudah melakukan pembesaran sidat di Banyuwangi.
"Produksinya per tahun sekitar 10 ton per bulan dengan kualitas ekspor. Sidat banyak digunakan sebagai bahan makanan di restoran-restoran Jepang dengan harga yang cukup mahal," kata Pudjo, Senin (20/1/2013).
Pudjo menjelaskan, masih belum ada teknologi yang bisa menghasilkan bibit Sidat karena ikan yang berbentuk seperti ular tersebut mempunyai siklus hidup yang unik.
"Untuk bibit masih tergantung pada tangkapan alam, karena Sidat betelur di wilayah laut dan besar di air tawar," jelasnya.
Sementara itu, Daniel Amrullah (50) salah satu pembudidaya Sidat di wilayah Desa Parijatah Kulon, Kecamatan Srono, kepada Kompas.com menjelaskan, selama ini ia mendapatkan bibit Sidat masih dari luar Banyuwangi.
"Biasanya saya pesan bibit dari Mentawai, Cilacap, Pelabuhan Ratu, dan Lampung. Jangankan di Banyuwangi, di Jepang sendiri masih belum ada ilmu tekhnologi untuk pembibitan Sidat. Di sini saya hanya melakukan pembesaran," jelasnya.
Menurut Daniel, dia menggunakan bibit dengan ukuran 'finger" dengan isi per kilo sekitar 5.000 sampai 7.000 ekor.
"1 kilogram ukuran finger dalam waktu 8 bulan akan menghasilkan kurang lebih 1,25 ton sidat dengan harga jual sekitar Rp 150.000 per kilogram. Kenapa 8 bulan? Karena di usia tersebut ukuran sidat antara 3 ons sampai 6 ons dan siap dikonsumsi," ungkapnya.
"Tapi Sidat juga mempunyai golden size antara 2,5 ons hingga 3,5 ons. Ukuran itu yang sering dicari restoran-restoran Jepang sebagai bahan Unagi. Tapi kalau dibiarkan Sidat bisa besar sampai ukuran 3 meter bentuknya seperti ular," sambungnya.
Sidat yang dibudidayakan oleh Daniel banyak dijual ke Bandung, Jakarta, Surabaya dan Bali.
"Ada juga yang diekspor, tapi untuk memenuhi permintaan dalam negeri saja sudah kewalahan. Jadi berapa pun banyaknya Sidat selalu laku jadi enggak pernah khawatir susah penjualannya. Banyak pembeli yang langsung datang ke sini," kata dia.
Sedangkan untuk tempat pembesaran, Daniel memanfaatkan sungai yang dialirkan ke kolam-kolam kecil di belakang rumahnya.
"Air untuk Sidat harus mengalir, agar sidatnya bergerak dan banyak makan. Karena kalo airnya diam maka Sidat akan malas makan, dan sisa pakan yang tidak termakan akan menghasilkan racun untuk sidat," kata Daniel lagi.
Daniel mengaku untuk bahan pakan dia melakukan riset sendiri dengan mencampur tepung ikan, dedak halus, tepung jagung, tapioka, dan rumput laut hingga berbentuk seperti pasta.
"Normalnya makanan yang diberikan lima persen dari berat Sidat, tapi sengaja saya tambah menjadi 7,5 persen agar cepat panen tapi tentu dengan memperkuat aliran sungai, karena sidat akan bergerak lebih cepat," tandas Daniel.
Daniel memprediksi budidaya Sidat di Banyuwangi akan terus berkembang pesat karena Sidat menjadi salah satu hidangan utama yang terpopuler di Jepang.
"Selain Unagi ada juga Unadon, sidat bakar yang disajikan di atas nasi. Sedangkan Sidat sendiri di Jepang sudah menjadi ikan langka dan hanya 30 persen sidat dari Jepang sendiri yang digunakan sisanya yang ekspor salah satunya dari wilayah Banyuwangi," cetus Daniel.

Korsel Tertarik Investasi Budidaya Sidat di Indonesia

Ternak Ikan Sidat
Korea Selatan berencana berinvestasi di Indonesia untuk mengembangkan komoditas ikan sidat. Kepala Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi Kementerian Kelautan dan Perikanan, Sarifin, mengatakan investasi itu bernilai sekitar Rp 5 miliar.
Dalam merespons rencana Korea ini, Sarifin telah menawarkan dua opsi kepada Korea. Sebab, lahan yang akan digunakan untuk budidaya ikan sidat itu merupakan milik pemerintah. Dia mengatakan, berdasarkan peraturan terdapat dua opsi, yakni pembagian persentase dan penyewaan lahan.
“Saya ambil opsi sewa. Karena kalau mereka tidak sukses, negara sudah diuntungkan dengan harga sewa lahan sekian ratus juta,” katanya kepada Tempo, Ahad, 24 November 2013.
Sidat sangat diminati pasar internasional, terutama Korea, Jepang, Taiwan, dan Cina. Permintaan sidat di pasaran internasional bisa mencapai 300 ribu ton per tahun.
Sarifin menuturkan, jika kerja sama ini berjalan, Indonesia bisa mendapatkan keuntungan, yaitu ikan sidat bisa dikembangkan di Indonesia dengan baik. Keuntungan lainnya adalah dapat terjadi transfer teknologi mengenai budidaya, pemberian pakan dan lainnya. Sehingga terjadi pula transfer ilmu pengetahuan mengenai budidaya ikan sidat.
Namun, Sarifin belum bisa menyebutkan volume produksi ikan sidat. Kerja sama investasi budidaya ikan sidat ini adalah yang pertama kali untuk jenis ikan budi daya tersebut.
Pengembangan komoditi ikan sidat hingga saat ini masih terhambat karena belum ada teknologi untuk pemijahan (pengawinan). Keterbatasan ini menyebabkan harga sidat di pasaran menjadi cukup tinggi. Ikan sidat mengandung gizi yang tinggi berupa vitamin A, kandungan EPA rata-rata lebih tinggi. Kandungan DHA ikan sidat 1.337 miligram per 100 gram.(Sumber : Tempo)

Warung Sidat Bu Iis, Sajikan Olahan Sidat Kaya Gizi


Warung Sidat Bu Iis
IKAN Sidat, dikenal memiliki nilai gizi yang tinggi, namun sulit untuk mendapatkan, sehingga masih jarang dijumpai warung makan yang menyediakan menu ikan sidat. Salah satu warung makan yang menyajikan menu ikan sidat adalah Warung Makan Sidat Bu Iis, yang berlokasi di Jalan Purboyo Warak No 1 Cebongan Mlati Sleman. Dalam sehari, ia mampu memasak beragam aneka masakan berbahan dasar sidat, seperti sidat goreng, tumis sidat, sidat kukus sampai rica-rica sidat.
Menurut Supardal, pengelola Warung Makan Sidat Bu Iis, dirinya berani membuka warung khusus sidat, selain kelezatan dari masakan ini, juga kandungan gizinya yang cukup bagus bagi tubuh. Bahkan, ikan sidat baik dikonsumsi bagi semua kalangan usia, dari anak-anak sampai orang dewasa.
“Ikan sidat mengandung asam lemak tidak jenuh yang tinggi, sehingga dapat menjadi makanan menyehatkan bagi tubuh, lemaknya ini juga bagi kesehatan otak, bisa untuk membantu meningkatkan fungsi mental, memperlambat penuaan, memperbaiki tekanan darah dalam tubuh,” papar Supardal.
Selain mengandung banyak zat gizi, ikan sidat juga bisa dimasak dengan aneka olahan dan bumbu beragam rasa. Bagi penyuka masakan goreng, ikan sidat bisa dimasak dengan cara digoreng menggunakan tepung, atau diolah dengan cara dikukus, sehingga kelezatannya tetap terjaga.
Meski termasuk jenis ikan yang kaya gizi, namun pembudidayaannya tidak mudah, sehingga minimnya produksi berdampak pada sulitnya mendapatkan ikan sidat. Imbasnya harga sidat di pasaran sangat mahal, bahkan karena masih minimnya budidaya sehingga pasokan ikan sidat ke warung makan bisa tersendat.
Memasak ikan sidat, tidak jauh berbeda dengan memasak olahan jenis ikan gurami atau lele. Hanya saja, ikan sidat banyak mengandung lemak minyak, sehingga dalam memasak diupayakan jangan terlampau banyak menggunakan minyak goreng karena lemak dalam ikan tersebut bisa sebagai minyak untuk memasaknya.
“Meski Indonesia merupakan salah satu tempat hidup ikan sidat, namun minimnya kesadaran budidaya, sehingga ikan sidat jarang ditemukan dalam masyarakat. Karena itu, selain membuka warung, saya juga membudidayakan sendiri ikan sidat, selain mengandalkan pasokan tangkapan masyarakat,” katanya. (Sumber : KR Jogja)

Pemkab Cilacap Rintis Desa Sidat


Budidaya Sidat

Tekad Pemerintah Kabupaten Cilacap untuk memiliki produk unggulan di setiap desa, terus digalakkan. Berbagai sektor jenis usaha untuk meningkatkan taraf ekonomi warga, satu persatu terus dimaksimalkan produksinya.
Satu usaha yang memiliki peluang besar dan bernilai ekonomi tinggi yang saat ini tengah digarap, yakni budidaya sidat. Pemkab melalui Dinas Kelautan Perikanan dan Pengelola Sumber Daya Kawasan Segara Anakan saat ini sedang merintis desa sidat untuk memenuhi kebutuhan pangsa pasar yang cukup tinggi.
Kepala Dinas Kelautan, Perikanan dan Pengelola Sumber Daya Kawasan Segara Anakan Cilacap, Sudjiman SP MP mengatakan, rintisan desa sidat ini dilaksanakan di Pesanggrahan Kecamatan Kesugihan yang sudah mulai dijalankanm Setidaknya, saat ini sudah ada sekitar 30 petani dengan 30 kolam budidaya sidat.
Ia menambahkan, dari hasil budidaya tersebut, sudah mampu menghasilkan lima kuintal sidat untuk sekali panen. Produksi tersebut akan terus ditingkatkan, mengingat potensi sidat yang ada di wilayah Cilacap cukup menjanjikan.
“Besarnya peluang untuk pangsa pasar sidat yang ada, sampai sekarang belum mampu terpenuhi dari hasil produksi di Cilacap. Dengan demikian, kesempatan untuk mengembangkan Desa Sidat di Kesugihan masih terbuka lebar yang akan mendukung peningkatan kesejahteraan petaninya,” ujarnya.
Dari desa rintisan tersebut, kata Sudjiman, saat ini bahkan sudah ada satu rumah produksi yang mengubah sidat menjadi dendeng sebagai makanan siap saji yang memiliki harga cukup menjanjikan. Panganan ini sudah dipasarkan hingga ke kota Bandung Jawa Barat dan sekitarnya.
“Dengan harga sidat yang mencapai Rp 80 ribu per kilogramnya, tentunya sangat prospektif untuk dikembangkan. Apalagi jika sudah dijual dalam bentuk olahan, tentunya memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi lagi,” katanya. Sudjiman menambahkan, masih minimnya produksi sidat di Kesugihan karena para petaninya masih memerlukan pembinaan yang berkelanjutan. Apalagi saat ini, sidat yang dibudidayakan merupakan hasil tangkapan manual dari para nelayan. Oleh karena itu, dalam waktu dekat pihaknya akan mengumpulkan para nelayan dan pembudidayanya untuk mendapatkan pembinaan untuk meningkatkan produksinya.
“Cilacap itu terkenal dengan banyaknya sidat di hampir seluruh perairan yang ada. Hal ini tentu harus dipikirkan bersama bagaimana membudidayakannya agar bisa meningkatkan taraf ekonomi warga. Kita akan lakukan pembinaan sampai seluruh warga maupun pembudidaya paham bagaimana mengolah potensi sidat yang ada,” katanya. (Sumber : SatelitNews)

Pelasan Uling/sidat, Olahan Sidat Ala Banyuwangi

Olahan Sidat Banyuwangi

Menikmati unagi tidak harus jauh-jauh ke Jepang. Anda bisa menikmatinya di Banyuwangi, Jawa Timur. Unagi merupakan masakan Jepang yang sudah dikonsumsi mulai abad 7 sebagai makanan yang kaya protein, kalsium, vitamin A dan E yang berbahan dari Ikan Sidat.
Mutiara Ulya pemilik Galeri Singgasana Sidat Banyuwangi kepada Kompas.com, Kamis (6/2/2014) mengatakan Ikan Sidat juga populer di Korea. “Masakan berbahan dasar Sidat dianggap sebagai sumber daya tahan untuk laki-laki. Selain itu Sidat mempunyai kandungan gizi 25 kali lebih banyak dibandingkan susu, 2 kali ikan Salmon serta memiliki omega tinggi. Ibu hamil juga bagus mengkonsumsinya karena akan menambah kecerdasan otak bayi dan membuat daya tahan tubuh meningkat,” jelasnya.
Tidak susah mendapatkan ikan Sidat di Banyuwangi. Masyarakat dari kabupaten yang dikenal dengan Sunrise of Java lebih mengenal Sidat dengan sebutan Uling. “Kalo di Jepang Sidat tanpa tulang diolah menjadi unagi-no-kabayaki atau sidat panggang yang diberi saus manis kabayaki semacam Teriyaki. Atau ada juga direbus. Kalau di Banyuwangi, Sidat dikenal Uling biasanya dipepes atau dikenal dengan pelasan Uling,” jelas Mutiara Ulya, pemilik galeri Singgana Sidat Banyuwangi.
Mutiara Ulya menjelaskan Ikan Sidat dibersihkan dan dipotong-potong serta dicuci bersih. “Untuk bumbunya sederhana hanya cabai merah, cabai rawit, asam jawa, gula merah. Ada juga tomat yang dipotong-potong untuk menghasilkan rasa segar dan pas dengan daging Sidat yang lembut,” ujar gadis yang masih mengerjakan skripsi itu.
Setelah bumbu siap, maka dicampur dengan Sidat yang sudah dipotong-potong lalu dibungkus daun pisang. “Satu pelasan berisi dua atau tiga potong daging Sidat. Lalu kemudian dikukus sebentar lalu dibakar agar aroma dagingnya keluar. Memang sengaja tidak diambil durinya karena pelanggan bilang sensasinya lebih terasa,” katanya.
Mutiara membanderol harga Rp 15.000 per satu pelasan. “Biasanya yang datang dari rombongan luar kota, keluarga juga ada dan makannya di atas kolam. Kami memang menyediakan semacam saung tepat di tengah tambak. Jadi pengunjung juga bisa melihat langsung budidaya ikan tawar di sini. Makan juga sekaligus belajar karena disini ada juga ikan nila, ikan koi dan lele,” jelasnya.
Sementara itu Putri Akmal, warga Banyuwangi mengaku sudah beberapa kali makan pelasan Sidat bersama keluarganya. “Saya tahunya ini Uling. Dulu keluarga sering masak kalau pas nangkap di sungai. Soalnya kan belum ada yang membudidayakannya. Jadi masaknya ya kalau pas nemu aja. Saya juga baru tahu kalo di Jepang ini makanan mahal. Kalau di sini murah nggak usah jauh-jauh ke Jepang buat makan Unagi. Di sini ada yang versi Banyuwangi,” katanya sambil tertawa.
Putri mengaku daging Sidat yang lembut pas sekali dengan bumbu tradisional yang bercitra pedas dan asam. “Makannya pake nasi hangat jadi lupa kalo punya utang,” katanya tertawa.
Penasaran dengan rasa Pelasan Uling, Unagi Jepang Versi Banyuwangi. Di tunggu di Banyuwangi. Rasanya yang pedas, asam dan segar membuat anda selalu ketagihan. (Sumber : Travel Kompas)

kendala budidaya sidat

Kendala Budidaya Ikan Sidat
Ikan sidat mempunyai banyak keistimewaan seperti kandungan omeganya tinggi, rendah kolesterol dan cita rasa dagingnya enak. Selain itu harga sidat ukuran konsumsi termasuk tinggi, bisa mencapai Rp 170.000/kilogram.
Hal demikian diungkap pelaku pembesaran ikan sidat asal Kebondalem, Tridadi, Sleman, Hanif Irfani, Minggu (9/2/2014). Lebih lanjut Hanif mengungkapkan, pemasaran sidat konsumsi cukup mudah, baik ditawarkan ke konsumen termasuk pemilik rumah-rumah makan maupun lewat internet.
“Hanya saja untuk mendapatkan bibit sidat tidak mudah, karena bibit sidat diperoleh dari tangkapan alam. Proses perkawinan induk sidat dan beranak di sungai-sungai mendekati laut,” jelas Hanif.
Bibit sidat yang pernah dibesarkan, lanjutnya, antara lain pernah diperoleh dari pengepul asal Cilacap, Jawa Tengah. Suatu saat pernah membeli 1050 ekor bibit sidat, namun setelah dibesarkan tinggal 76 ekor dan dijual laku Rp 1 juta lebih sedikit.
“Sebagian ada yang mati dan sebagian hilang. Ini termasuk kendala dalam membesarkan sidat. Bukti ada yang hilang pemancing-pemancing di sungai yang tidak jauh dari kolam pembesaran sidat kami, pernah mendapatkan ikan-ikan sidat,” paparnya.
Terpisah, Suradal pemilik warung makan spesial menu sidat di Sumberadi, Mlati, Sleman mengungkapkan, pernah mencoba dua kali membesarkan bibit-bibit sidat. Hanya saja harus menunggu minimal delapan bulan untuk memanen sidat ukuran konsumsi. Masih ditambah lagi banyak yang mati dan ia merasa rugi. Akhirnya, saat ini lebih mantap mengandalkan setoran sidat dari pengepul terutama dari Cilacap untuk memenuhi kebutuhan di warungnya.
“Di Cilacap sidat banyak ditemukan seperti di rawa-rawa maupun sungai-sungai kawasan hutan bakau. Jika ingin memesan masih wujud bibit pun, sebagian pengepul di sana akan menyanggupi,” jelasnya.
Ditambahkan, kolam untuk penampungan stok sidat perlu dilengkapi tempat persembunyian seperti pipa-pipa peralon maupun genteng-genteng. Airnya diusahakan selalu bening dan sirkulasi udaranya bagus. Ia biasa memberi pakan wujud ikan-ikan tombro masih kecil, keong maupun irisan usus ayam. Beberapa konsumen pun ada yang membeli sidat masih hidup, entah akan dikoleksi maupun dimasak sesuai selera pembeli. (Sumber : KR Jogja)

cara budidaya sidat moa yang benar

Laut utara jepang yang sangat berpotensi untuk perkembangbiakan ikan sidat dijepang kini dengan adanya krisis nuklir menyebabkan banyak ikan yang tercemar limbah radioaktif, tentunya ini sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Oleh karena itu kini jepang banyak mengimpor ikan terutama ikan sidat dari Negara tetangga termsuk impor sidat dari Indonesia.


Jepang mengimpor ikan Sidat dari China dan Vietnam hampir 500.000 ton per tahun. Namun permintaan yang terus bertambah, sukar dipenuhi karena pencemaran lingkungan di kedua negara ini pun telah makin parah akibat pertumbuhan industri.

Negara-negara Eropa juga merupakan pasar yang berpotensi tinggi, karena mereka juga banyak mengonsumsi ikan. Budidaya Sidat mungkin masih kalah populer dari ikan-ikan jenis lain seperti lele, gurami, Ikan mas dan ikan lain. Meskipun demikian, potensi bisnis ikan Sidat cukup cerah untuk dicoba.

Di dalam negeri, ikan Sidat memang belum menempati posisi yang bagus, karena harganya sangat mahal. Tapi di Jepang, Macau, Taiwan, Cina dan Hong Kong, Ikan Sidat banyak digemari. Selain karena kandungan gizi yang tinggi, harga ikan ini sangatlah fantastis, sehingga peluang bisnisnya sangat bagus.

Ikan sidat merupakan salah satu kekayaan laut Indonesia. Di perairan Indonesia sumberdaya benih Ikan Sidat cukup berlimpah. Setidaknya, terdapat empat jenis, yaitu Anguilla bicolor, Anguilla marmorata, Anguilla nebulosa, dan Anguilla celebesensis.  Awal mula ekspor ikan ini, Indonesia mengandalkan tangkapan dari alam, namun lambat laun budidayanya mulai digalakkan.

Budi Daya

Anda tertarik untuk membudidayakannya? Budidaya ikan Sidat relatif tidak sulit. Apalagi rasio hidup sangat tinggi, sekitar 90 persen, karena Sidat mempunyai daya tahan kuat terhadap penyakit. Lamanya budi daya tergantung ukuran benih. Paling banyak yang dibudidayakan adalah ukuran 200 gram untuk menghasilkan panen > 500 gram. Lama budidaya maksimal lima bulan. Tingkat produktivitasnya juga cukup bagus. Untuk satu ton benih, diperkirakan bisa menghasilkan 5 ton ikan.

Sekarang, makin banyak investor yang berkeinginan membudidayakan ikan jenis ini. Sebab, budidaya ikan Sidat dipastikan menguntungkan. Secara praktis ikan ini dapat dibudidayakan di kolam tanah berdinding bambu, kolam beton (bak beton), pen dan keramba jaring apung. Apa pun jenis wadah yang digunakan dalam budidaya, yang hamus diperhatikan adalah bagaimana mencegah lolosnya ikan dari media budidaya. Pada pemeliharaan benih lokal, suhu terbaik untuk memacu pertumbuhan adalah 29
C, sedangkan salinitas yang dapat memberikan pertumbuhan yang baik adalah 6 - 7 ppt.

Pakan

Selain itu, kandungan oksigen minimal yang dapat ditoleransi oleh ikan ini berkisar antara 0,5 - 2,5 ppm dan pH optimal. Seperti halnya jenis lain, Ikan Sidat membutuhkan zat gizi berupa protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral. Kadar protein pakan optimal adalah 45% untuk ikan bestir (juvenil) dan sekitar 50% untuk ikan kecil (fingerling). Biasanya, pakan yang diberikan adalah buatan berbentuk pasta dengan kandungan : Protein 47,93%, Lemak 10,03%, Seratkasar 8,00%, BETN 8,32% dan Abu 25,71%

Sebenarnya Sidat termasuk ikan carnivora, pemakan daging,  cacing, cacahan keong, cacahan bekicot,  dan pelet.  Dan Sidat lebih suka makan makan di dasar kolam, bukan terapung.
Pemeliharaan Ikan Sidat pada kolam biasanya selama 7 - 8 bulan, dan masa panen secara bertahap dapat dimulai pada masa pemeliharaan 4 bulan.

Panen

Dalam perawatannya pun, suplai oksigen harus dijaga karena ikan tersebut  membutuhkan air dengan tingkat larutan oksigen tinggi. Ukuran Ikan Sidat yang, dipanen dapat mencapai ukuran konsumsi, yaitu 180 - 200 gram per ekor. Sidat yang dipanen diletakkan di  dalam keranjang plastik.  Keranjang ini diletakkan di dalam bak berisi air dengan sirkulasi.  Pakan tidak diberikan selama satu hari sebelum pengangkutan ke pasar.

Untuk pengangkutan selama lima sampai 10 jam dapat digunakan keranjang plastik, yaitu 10 keranjang yang berisi 4-5kg ditumpuk dan air dingin dipancurkan di atas tumpukan keranjang tersebut. Satu keranjang berisi 1-2 kg es batu, kemudian diletakkan di atas tumpukan tersebut. Tumpukan tadi kemudian dimuat ke atas truk dengan ditutup kain kanvas. Untuk jarak jauh, yang memerlukan waktu 20 sampai 30 jam, Sidat dikemas dalam kantong plastik lapis dua berkapasitas 8 liter, diisi 1-2 liter air, 0,5-1kg es batu dan gas oksigen.  Satu kantong dapat diisi 5-10 kg.  Biasanya, dua kantong dikemas dalam satu kotak Styrofoam.

Potensi sumber daya ikan Sidat yang cukup besar namun pemanfaatannya yang belum optimal, sebenarnya mampu memberikan manfaat yang signifikan bagi masyarakat, melalui penciptaan lapangan usaha dan penyerapan tenaga kerja dalam kegiatan-kegiatan penangkapan, budidaya, pengolahan dan tataniaganya, apabila diupayakan secara sungguh-sungguh dan bijaksana
sumber sidatkita.blogspot.com

cara perawatan bibit sidat glass eel



Glass Eel
Glass eel (anakan sidat) berukuran 5 cm sebaiknya ditempatkan dalam aquarium yang beraerasi dan bersirkulasi baik agar mudah dipantau. Lebih baik lagi jika airnya diganti sehari sekali
Glass eel dapat diberi pakan alami yaitu cacing sutra / cacing tubifex. Sebaiknya cacing sutra tersebut kita cuci bersih di air mengalir 4-5 kali agar parasitnya hilang. Agar pertumbuhan glass eel lebih cepat, bisa dibiasakan makan pelet (lebih disukai berbau amis). Ada trik yang bisa digunakan agar glass eel terbiasa makan pelet. Caranya : jangan diberi makan selama dua bulan kemudian beri makan pelet dikit demi sedikit.
Pakan Buatan
Pakan buatan bisa ditambahkan seiring bertambahnya ukuran sidat. Jenisnya pasta dan pelet. Cacing sutra tetap diberikan jika sidat belum mau sepenuhnya makan pasta.
pasta
Cara membuat  2 kg Pasta:
  • Pelet berdiameter 0,5 cm sebanyak 1 kg.
  • Cacing sutra sebanyak 1 kg.
  • Haluskan pelet dengan penggiling daging hingga berbentuk seperti batang lidi (diameter < 0,1 cm).
  • Campurkan 1 kg pelet dan 1 kg cacing sutra
  • Tambahkan 200 ml air kedalam campuran. Padatkan dengan cara dikepal-kepal. Pasta siap digunakan. Sebaiknya digunakan dalam sehari, karena tidak tahan lama.
Jumlah cacing sutra bisa dikurangi secara bertahap seiring dengan bertambahnya umur, sehingga nantinya tidak digunakan cacing sutra sama sekali.
Pelet
Pelet berbentuk butiran bisa diberikan pada tahap pembesaran atau saat sidat sudah bisa membuka mulut dengan lebar. Pelet yang diberikan yang berdiameter 0,5 csumber sidat moa worspress