Home » » merawat benih gurami setelah telur menetas

merawat benih gurami setelah telur menetas


 Memelihara gurame dari telor memang suatu hal yang kadang membingungkan. Perlakuan yang tidak cocok dengan kondisi ikan akan menyebabkan kematian larva gurame, Dengan adanya kendala tersebut maka sering kali terjadi keterbatasan produksi benih gurami sehinga menimbulkan tidak seimbangnya antara permintaan dan stock benih yang ada. Untuk mengatasi hal itu perlu pengelolaan benih gurami secara intensif  dan teknis yang lebih teratur. Kiranya tepat apabila bisnis pembenihan gurami yang ada sekarang ini terus dipacu perkembangannya.

Namun harus kita sadari bahwa bisnis dibidang pembenihan gurame  skala rumah tangga sebenarnya menjanjikan harapan yang lebih baik sekaligus memberikan peluang pekerjaan yang lebih luas.namun yang penting bagaimana membuat kondisi lingkungan air bisa seperti di alam bebas walaupun kita budidayakan di kolam semen,terpal atau di tempat khusus yang lain.

pelaksanaan pembenihan ikan gurami harus memperhitungkan factor – factor yang berpengaruh terhadap SR seperti Suhu air, pH air,DO (Desolved Oxigen), pathogen dan kebersihan pakan tubifex sp. Kerap kali jika diabaikan dari salah satu factor tersebut menimbulkan kegagalan.
Salahsatu Untuk menyempurnakan iktiar dalam usaha pembenihan gurame dari telor yaitu:

1.  Pemilihan dan penetuan lokasi yang akan dijadikan lokasi usaha pembenihan gurame supaya tidak salah dalam pembuatan sate plannya. Memilih dan menentukan lokasi yang cocok untuk pembenihan gurami merupakan langkah awal yang harus dilakukan sebelum membuat bangunan kolam sebagai wadah budidaya ikan. Sebab lokasi yang tidak cocok dapat memungkinkan mempengaruhi suatu keberhasilan pada kegiatan pembenihan ikan gurami ini. Beberapa contoh kendala seperti sulitnya sumber air yang digunakan untuk pengisian air media pemijahan maupun pemeliharaan larva, sarana angkutan yang sulit masuk ke kawasan budidaya, benih terserang penyakit, dsb. Oleh karena itu pemilihan lokasi usah harus melihat berberapa aspek usaha pembenihan gurami ini dengan cermat. Lingkungan yang tenang adalah tempat penetasan telur / perawatan gurame yang baik, karena jika sering kaget benih gurame akan mudah stres.

2.  Pembuatan kolam yang standar untuk pembenihan ikan gurami

Ukuran kolam yang dipakai adalah Px L x T (3 x 5 x 1) meter. Ketinggian air 0,3 – 0,5 meter.  Kolam terbuat dari bak semen / beton dengan kemiringan dasar kolam 5 cm dan di ujung out let dibuatkan cekungan kotak ukuran 0,5 x 0,5 x 0,35 meter gunanya untuk tempat mengumpulnya benih saat panen jika air disurutkan melalui out let. Padat tebar larva 250 – 500 per meter persegi,sebelum benih di tebar ,kolam harus di bersihkan dahulu dan di isi air yang sudah di endapkan.

3.  adaptasi larva gurame

Cara adaptasi : benih gurami yang masih terbungkus dalam plastik yang masih tertutup rapat atau ember penetasan gurami dimasukan kedalam kolam, biarkan selama kurang lebih 10 menit hingga air kolam dan air dalam plastik sudah sama suhunya, setelah itu dibuka plastiknya atau  air dalam kolam masukkan sedikit demi sedikit kedalam plastik atau ember tempat benih gurame,setelah benih terlihat dalam kondisi baik.  Selanjutnya benih ditebar/dilepaskan dalam kolam secara perlahan-lahan

4.kelistrikan dalam kolam

Kelistrikan di atur agar berfungsi untuk menambah oksigen dengan aerator atau filter air

5.sirkulasi air/kricikan air/kwalitas air

Kricikan air dalam tandon air di alirkajn sedikit sehingga air memancar hal demikian selain untuk pergantian air  juga akan menambah oksigen.
Kualitas dan kuantitas air yang cocok untuk pertumbuhan larva di pendederan I adalah sebagai berikut:

1. Suhu media air : 29 C – 30 C
2. Nilai pH air : 6,5 – 7,5
3. Nilai Oksigen terlarut : 3 – 5 mg / lt
4. Ketinggian air : 30 cm – 50 cm

      Perlakuan terhadap air media pada satu minggu pertama belum diganti karena kotoran atau endapan bahan organik belum banyak, setelah lewat satu minggu air media dua hari sekali diganti airnya setengahnya media air yang digunakan sambil dilakukan sipon kotoran dan bahan organic yang mengendap didasar kolam karena banyak mengandung ammonia dan  bisa sebagai sumber penyakit.

Kolam Pendederan

Telur  gurame akan menetas dalam selang waktu 24-48 jam tergantung suhu media penetasan. Sebaiknya suhu dipertahankan pada kisaran 29- 30 oC untuk meningkatkan derajat penetasan telur ikan gurame.  Larva biasanya akan bergerak berputar-putar dan berkelompok. Siapkan tempat untuk pendederan, karena pada hari ke 3-4 larva gurami sebaiknya sudah dipindahkan ke kolam pendederan untuk pemeliharaan selanjutnya. Di kolam pendederan (usia 4-5 hari) larva sudah berenang dengan perut buncit berisi kuning telur, sehingga belum perlu diberi pakan BIASANYA Pemberian pakan dimulai saat larva berusia 7-8 hari..

Kolam pendederan berfungsi untuk mendederkan atau membesarkan larva ikan menjadi benih ikan. Kolam pendederan ini lebih dari satu kolam dan biasanya pendederan ke-1, berfungsi sebagai tempat memelihara larva hingga ukuran 1 cm. Kolam pendederan ke - 1 ini berupa bak semen dilengkapi paralon in let disambung dengan saluran pompa air dan paralon out let berdiameter 1 dim – 2 dim.  Ukuran kolam   3 x 5 x 1 meter atau 4 x 6 x 1 meter.

Umur 1minggu - 1 bulan masih dipengaruhi oleh suhu udara dan pH selain itu juga kepadatan kolam bisa menyebabkan kematian. Kira kira umur 10 hari larva gurame sudah bisa melihat dan mulai memakan plankton, dan makanan tambahan lainnya walaupun sangat sedikit. Jika tempatnya terlalu kecil sebaiknya dilakukan penjarangan.

PAKAN SETELAH PENETASAN

 Pemberian pakan dapat dimulai setelah larva dipindahkan. Pakan berupa cacing rambut (Tubifex sp.), Daphnia sp., Moina sp., atau pakan alami lainnya yang sesuai ukurannya. Benih gurame dapat dipelihara di akuarium, bak kayu yang dilapisi plastik, bak tembok atau ditebar langsung ke kolam pendederan. Pemeliharaan benih pada wadah terkontrol harus dilengkapi dengan aerasi untuk suplai oksigen dan terhindar dari kontak langsung dengan hujan,sebagian pembenihan malah tanpa atap.. Pakan awal berupa cacing rambut, Daphnia sp., Moina sp., atau sumber protein hewani lainnya.

Pakan Alami

      Pakan alami adalah pakan ikan berupa fitoplankton (Nabati) dan Zooplankton (Hewani). Jenis pakan alami ini memiliki ukuran kecil dan cocok diberikan untuk benih ikan.

      Benih ikan gurami yang masih larva memiliki kecenderungan bersifat carnivore pemakan hewani sehingga sangat cocok jenis zooplankton yang diberikan kebenih gurami tersebut. Zooplankton sangat menarik perhatian benih karena bergerak dan larva segera memangsanya.

      Keuntungan pemberian pakan alami ini adalah tidak mudah rusak , tetap hidup bersama larva diair, tidak mencemari dan mengotori air.  Dengan demikian jika larva gurami ini lapar akan mudah mendapatkan pakan.

      Kandungan pakan alami ini juga mengandung gisi yang cukup baik untuk pertumbuhan larva, Jika cacing sutera ini mudah di dapat maka yang paling ideal diberikan cacing sutera ini karena akan lebih mempercepat pertumbuhan terkait dengan kandungan protein tinggi sekitar 57 %. Pemberian pakan ini secukupnya untuk 10.000 ekor hari pertama 1 kaleng dan diberi pakan lagi diperkirakan cacing habis. Pemberian pakan cacing sutera / tubifek ini jumlahnya meningkat terus seiring dengan bertambahnya berat badan ikan larva ini. Pada dasarnya pemberian pakan ini secukupnya dan tidak menutup kemungkinan pemberiannya tidak setiap hari jika cacing tubifek dikolam sudah menipis bisa segera ditambah dengan jumlah lebih dari hari sebelumnya, ditempatkan didasar kolam dan harus dijaga masih hidup.

Bahan-bahan nabati dapat mulai diberikan setelah larva berumur 36-40 hari. Sedangkan pakan buatan (pelet) dapat diberikan dengan menyesuaikan bukaan mulut ikan. Setelah 15-20 hari, lakukan seleksi dan kelompokan sesuai ukuran lalu pisahkan kolam pendederan untuk masing-masing ukuran, agar pertumbuhan bibit gurami seragam, dan mudah penentuan harga jika ada pesanan.

Lama pemeliharaan dan benih yang dihasilkan antara lain: Benih berumur 40 hari dapat mencapai ukuran 1-2 cm (setara ukuran kuku). Benih berumur 80 hari dapat mencapai ukuran 2-4 cm (setara ukuran jempol). Benih berumur 120 hari dapat mencapai ukuran 4-6 cm (setara ukuran silet). Dan benih berumur 160 hari dapat mencapai ukuran 6-8 cm (setara ukuran korek di masyarakat).
Selanjutnyaa sstelah benih di panen kolam harus di keringkan dahulu untuk pemeliharaan lerva gurame berikutnya.

PENETASAN teler gurame  dan pemeliharaan larva termasuk mudah untuk dipelajari. pem benih an ikan gurame merupakan pilihan yang tepat. Banyaknya pelatihan-pelatihan, buku-buku dan dan para ahli membuat kita bisa cepat belajar. Namun, bukan berarti tidak ada kelemahan pada cara budidaya penetasan telur gurame  ini, tetap ada kendala dan kesulitan yang akan kita hadapi. Karena kondisi lingkungan yang berbeda belum tentu keberhasilan yang kita dapat akan sama. Contohnya ketersediaan air alami dan suhu di tiap daerah ber beda beda.
 Oleh karena itu kita sesuaikan dengan kemampuan kita dan jika bisa kita mungkin akan menemukan cara yang berbeda sehingga kelemahan dan kendala yang kita hadapi dapat kita minimalisir. Banyak - banyaklah belajar dan bertanya pada pakar maupun peternak ikan gurame yang sudah berpengalaman sebelumnya. Tidak ada salahnya kita mengikuti seminar yang biasanya diadakan di masyarakat setempat. Karena bisnis benih gurame ini tidak akan ada habisnya, masih banyak peternak yang kesulitan memenuhi permintaan pasar ikan  benih gurami yang membludak .
Semoga bermanfaat

Written by : Your Name - Describe about you

Forum ABATA GROUP penyedia benih ikan air tawar bibit gurame,lele,nila,ikan mas/tombro,karper,bawal dan patin dari ukuran kuku sampai jempol melayani pengiriman di seluruh indonesia melalui cargo pesawat -081328030055.

Join Me On: Facebook | Twitter | Google Plus :: Thank you for visiting ! ::

0 komentar:

Posting Komentar